Woensdag, 17 April 2013

diabetes tipe 2





LAPOORAN PENDAHULUAN PADA Ny”M” DENGAN DIAGNOSA DIABETES MILITUS TYPE II
DI RUANGAN PENYAKIT DALAM A RS.MUHAMMADIYAH PALEMBANG



DISUSUN
Oleh:

NAMA  : HUSNI TAMRIN
NIM       : 11.01.023

KETUA RUANGAN PDL A :
SITI RENUH


AKADEMI KEPERAWATAN SAPTA KARYA PALEMBANG
TAHUN AJARAN 2013-2014








LAPORAN PENDAHULUAN PADA Ny”M” DENGAN DIABETES MILITUS TIPE II
DI RUANGAN PDL A RS.MUHAMMADIYAH PALEMBANG

A.  KONSEP DASAR DIABETES MELITUS

1.   Pengertian

Diabetes Mellitus ( DM ) adalah penyakit metabolik yang kebanyakan herediter, dengan tanda- tanda hiperglikemia dan glukosuria, disertai dengan atau tidak adanya gejala klinik akut ataupun kronik, sebagai akibat dari kuranganya  insulin efektif di dalam tubuh, gangguan primer terletak pada metabolisme karbohidrat yang biasanya disertai juga gangguan metabolisme lemak dan protein. ( Askandar, 2000 ).
Diabetes Melitus (DM) adalah keadaan hiperglikemi kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, neurologis dan pembuluh darah disertai lesi pada membran basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop elektron. (Arif Mansjoer, 1999 : 580)
Diabetes Melitus (DM) adalah gangguan metabolisme yang secara genetis dan klinis termasuk heterogen dengan manifestasi berupa hilangnya toleransi karbohidrat (Sylvia A Price and Lorraiene M. Wilson, 1995 : 1111)
Dari beberapa pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa Diabetes Melitus (DM) merupakan syndrom gangguan metabolisme secara genetis dan klinis termasuk heterogen akibat defisiensi sekresi insulin atau berkurangnya efektifitas dari insulin yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik baik pada mata, ginjal, neurologis dan pembuluh darah.
Anatomi dan Fisiologi
a.    Anatomi Pankreas
Pankreas terletak melintang dibagian atas abdomen dibelakang gaster didalam ruang retroperitoneal. Disebelah kiri ekor pankreas mencapai hilus limpa diarah kronio – dorsal dan bagian atas kiri kaput pankreas dihubungkan dengan corpus pankreas oleh leher pankreas yaitu bagian pankreas yang lebarnya biasanya tidak lebih dari 4 cm, arteri dan vena mesentrika superior berada dileher pankreas bagian kiri bawah kaput pankreas ini disebut processus unsinatis pankreas. Pankreas terdiri dari dua jaringan utama yaitu :
1)      Asinus, yang mengekskresikan pencernaan ke dalam duodenum.
2)      Pulau Langerhans, yang tidak mempunyai alat untuk mengeluarkan getahnya namun sebaliknya mensekresi insulin dan glukagon langsung kedalam darah.
Pankreas manusia mempunyai 1 – 2 juta pulau langerhans, setiap pulau langerhans hanya berdiameter 0,3 mm dan tersusun mengelilingi pembuluh darah kapiler.
Pulau langerhans mengandung tiga jenis sel utama, yakni sel-alfa, beta dan delta. Sel beta yang mencakup kira-kira 60 % dari semua sel terletak terutama ditengah setiap pulau dan mensekresikan insulin. Granula sel B merupakan bungkusan insulin dalam sitoplasma sel. Tiap bungkusan bervariasi antara spesies satu dengan yang lain. Dalam sel B , molekul insulin membentuk polimer yang juga kompleks dengan seng. Perbedaan dalam bentuk bungkusan ini mungkin karena perbedaan dalam ukuran polimer atau agregat seng dari insulin. Insulin disintesis di dalam retikulum endoplasma sel B, kemudian diangkut ke aparatus golgi, tempat ia dibungkus didalam granula yang diikat membran. Granula ini bergerak ke dinding sel oleh suatu proses yang tampaknya sel ini yang mengeluarkan insulin ke daerah luar dengan eksositosis. Kemudian insulin melintasi membran basalis sel B serta kapiler  berdekatan dan endotel fenestrata kapiler untuk mencapai aliran darah (Ganong, 1995). Sel alfa yang mencakup kira-kira 25 % dari seluruh sel mensekresikan glukagon. Sel delta yang merupakan 10 % dari seluruh sel mensekresikan somatostatin (Pearce, 2000)
Gambar anatomi pankreas dapat dilihat berikut ini :
                                                                                             Corpus pankreatikus
                                 Canalis Pylorica
pankre_Pic1                                                                                           Ductus pankreaticus                       
pankre_Pic2      Ductus Coledukus                                                                                                   
                                                                                                                                                         
                                                                                                                     Cauda                            
                                                                                                                Pankreatis
 


                                                                                                        Duodenum Pars
                                                                                                        asendens
                                            Caput pankreatis
                                                   Duodenum pars horisontal
                                                                                            Processus uricinatus
b.      Fisiologi Pankreas
Kelenjar pankreas dalam mengatur metabolisme glukosa dalam tubuh berupa hormon-hormon yang disekresikan oleh sel – sel dipulau langerhans.  Hormon-hormon ini dapat diklasifikasikan sebagai hormon yang merendahkan kadar glukosa darah yaitu insulin dan hormon yang dapat meningkatkan glukosa darah yaitu glukagon.


Fisiologi Insulin :
Hubungan yang erat antara berbagai jenis sel dipulau langerhans menyebabkan timbulnya pengaturan secara langsung sekresi beberapa jenis hormone lainnya, contohnya insulin menghambat sekresi glukagon, somatostatin menghambat sekresi glukagon dan insulin.
Insulin dilepaskan pada suatu kadar batas oleh sel-sel beta pulau langerhans. Rangsangan utama pelepasan insulin diatas kadar basal adalah peningkatan kadar glukosa darah. Kadar glukosa darah puasa dalam keadaan normal adalah 80-90 mg/dl. Insulin bekerja dengan cara berkaitan dengan reseptor insulin dan setelah berikatan, insulin bekerja melalui perantara kedua untuk menyebabkan peningkatan transportasi glukosa kedalam sel dan dapat segera digunakan untuk menghasilkan energi atau dapat disimpan didalam hati (Guyton & Hall, 1999)

2.   Etiologi
A. Keturunan
Orang yang bertalian darah dengan orang yang mengidap diabetes lebih cenderung mengidap penyakit ini ketimbang mereka yang tidak  didalam keluarga. Risiko bergantung pada jumlah anggota keluark jumlah yang memiliki diabetes. Semakin banyak jumlah sanak saudika orang  yang menigidap diabetes, semakin tinggi riskonya. Ada 5% bagi anda untuk mengidap diabetes jika orang tua atau saudara kandung anda mengidap dia bĂȘtes. Risikonya bisa meningkat meniadi 50% jika anda kelebihan berat badan. (Ramaiah Savitri, 2007)
Diabetes tipe 2 lebih banyak terkait dengan faktor riwayat keluarga atau keturunan ketimbang diabetes tipe 1. Pada diabtes tipe, kemungkinan orang terkena diabetes hanya 3-5 persen bila orang tua dan saudaranya adalah pengidap diabetes. Namun, bila penderita penderita diabetes mempunyai saudara kembar satu telur (identical twins), kemungkinan saudaranya terkena diabetes tipe1 adalah 35-40 persen. Banyak penelitian dilakukan untuk mencari petanda genetik pada kromosom penderita diabetes tipe 1 dan 2, dan ditemukan pada penderita diabetes tipe 1 memang ada gen yang terkait dengan terjadinya diabetes. Hal ini penting untuk melakukan screening dalam keluarga guna mendeteksi diabetes sedini mungkin. (Tandra Hans, 2007)
b.      Obesitas
Mungkin kegenmukan ini adalah factor resiko yang paling penting untuk diperhatikan. Sebab, melojaknya angka kejadian diabetes tipe 2 sangat terkait dengan obesitas. Menurunkan berat badan bukan sekedar soal berdiet, tetapi juga menyangkut perubahan gaya hidup, olahraga, meninggalkan sedentary life atau hidup santai. Semua ini harus dilakukan dengan penuh disiplin, kesabaran, dan ketekunan. Lebih dari 8 diantara 10 penderita diabetes tipe 2 adalah meraka yang kelewat gemuk. Makin banyak jaringan lemak, jaringan tubuh dan otot akan resisten terhadap kerja insulin (insulin resistence), terutama bila lemak tubuh atau kelebihan berat badan terkumpul didaerah sentral atau perut (central obesity). Lemak ini akan memblokir kerja insulin sehingga glukosa tidak dapat diangkut kedalam sel dan menumpuk dalam peredaran darah. (Tandra Hans, 2007)
Hampir 80% orang yang terjangkit diabetes pada usia lanjut biasanya kelebihan berat badan. Kelebihan berat badan meningkatkan kebutuhan tubuh akan insulin. Orang dewasa yang kegemukan memiliki sel-sel lemak lebih besar pada tubuh mereka. Diyakini bahwa sel-sel lemak akn lebih besar tidak merespon insulin dengan baik.gejl-gejal diabetes mungkin bisa menghilang seiring menurunya berat badan. (Ramaiah Savitri, 2007)
c.       Kurang gerak badan
Makin kurang gerak badan, makin mudah seseorang terkena diabetes. Olahraga atau aktivitas fisik membantu kita untuk mengontrol berat badan. Glukosa darah dibakar menjadi enegi. Sel-sel tubuh menjadi lenih sensitive terhadap insulin. Peredaran darah lebih baik. Dan resiko terjadinya diabetes tipe 2 akan turun sampai 50 persen. (Tandra Hans, 2007)
Beberapa penelitian dewasa ini telah menujukkan bahwa orang yang memiliki gaya hidup kurang aktif mungkin terkena diabetes dibandingkan mereka yang hidupnya aktif. Diyakini bahawa olahraga dan aktivitas fisik meningkatkan pengaruh insulin atas sel-sel. (Ramaiah Savitri, 2007)
d.   Usia
Risiko terkena diabetes akan meningkat dengan bertambahnya usia, terutama diatas 40 tahun, serta mereka yang kurang gerak badan, massa ototnya berkurang, dan berat badanya makin bertambah. Namun, belakangan ini, dengan makin banyknya anak yang mengalami obesitas, angka kejadian diabetes tipe 2 pada anak dan remaja pun meningkat. (Tandra Hans, 2007)
Risiko diabtes meningkat sejalan bertambahnya usia, terutama setelah usia 40 tahun, karena jumlah sel-sel beta didalam pancreas memproduksi insulin menurun seiring bertambahnya umur. (Ramaiah Savitri, 2007)
e.    Jenis kelamin
Baik pria maupun wanita memiliki risiko yang sama besar untuk mengidap diabetes sampai usia40 tahun, karena jumlah sel-sel beta didalam pancreas yang memproduksi insulin menurun seiring bertambahnya umur. (Ramaiah Savitri, 2007)
f.    Infeksi
Pada kasus diabtes tipe 1 yang terjadi pada anak, sering kali didahului dengan infeksi flu atau batuk pilek yang berulang-ulang. Penyebanya adalah infeksi oleh virus, seperti mumps dan coxsackie, yang dapat merusak sel pancreas dan menimbulkan diabetes. Seringkali keadaan ini tidak diwaspadai. Tanpa disadari, si anak tiba-tiba kondisinya merosot, kejang, atau koma karena glukosa darah tinggi, anak ini harus segera diobati dengan insulin. (Tandra Hans, 2007)
g.   Stres
Sukar bagi kita untuk memghubungkan pengaruh stress dengan timbulnya diabetes. Namun, yang pasti adalah bahwa stress yang hebat, seperti halnya infeksi hebat, trauma hebat, operasi besar, atau penykit berat lainnya, menyebabkan hormone counter-insulin (yang kerjamya berlawanan dengan insulin) lebih aktif. Akibatnya, glukosa darah pun meningkat.diabtes ini kadang ditemukan secara kebetulan pada waktu pasien memeriksakan glukosa darahnya. (Tandra Hans, 2007)
h.   Pemakaian obat-obatan.
Bebrapa obat dapat meningkatkan kadar glukosa darah, dan bahkan bisa menyebabkan diabetes. Bila anda mempunyai resiko terkena diabetes, anda harus memakai obat-obatan ini dengan sangat hati-hati. Tanyakan kepada dokter anda tentang kemungkinan mengganti obat. Obat –obatan yang dapat menaikan glukosa darah antara lain adalah hormon steroid, beberapa obat anti hipertensi, dan obat untuk menurunkan kolesterol. (Tandra Hans, 2007)
3.   Patofisiologi

Diabetes Tipe II ini adalah jenis yang paling sering dijumpai. Biasanya terjadi pada usia diatas 40 tahun. Sekitar 90-95 persen penderita diabetes adalah penderita diabetes tipe 2. Pada diabetes tipe ini, pancreas masih bisa membuat insulin, tetapi kualitas insulinya buruk, tidak dapat berfungsi dengan baik sebagai kunci untuk memasukan glukosa ke dalam sel. Akibatnya, glikosa dalam darah meningkat. Pasien biasanya tidak pelu tambahan suntikan insulin dalam pengobatannya, tetapi memerlukan obat yang bekerja untuk memperbaiki fungsi insulin itu, memlin erlikan glukosa, memperbaiki pengolahan gula di hat, dan lain-lain. Kemungkinan lainnya terjadi diabetes tipe 2 adalah bahwa sel-sel jaringan tubuh dan otot si pasien tidak peka atau sudah resisten terhadap insulin (dinamakan resistensi insulin atau insuresistence) sehingga glukosa tidak dapat masuk kedalam sel dan akhirnya tertimbun dalam peredaran darah.keadaan ini umumnya terjadi pada pasien yang gemuk atau mengalami obesitas. (Tandra Hans, 2007)
DM Tipe II adalah hasil interaksi faktor genetik dan keterpaparan lingkungan. Faktor genetik akan menentukan individu yang suseptibel atau rentan ke DM. Faktor lingkungan disini berkaitan dengan 2 faktor utama kegemukan (obesitas) dan kurang aktivitas fisik. Dalam masyarakat, mereka yang berkelompok risiko DM :
1.   Usia > 45 tahun
2.   Obesitas
3.   Hipertensi (> 140/90 mmHg)
4.   Ibu dengan riwayat melahirkan bayi > 4000 gram
5.   Pernah diabetes sewaktu hamil
6.   Riwayat keturunan DM
7.   Kolesterol HDL < 35 mg/dl atau tuigliserida > 250 mg/dl




















4. Pathway

Defisiensi Insulin
 

                                          glukagon↑                         pemakaian glukosa oleh sel
Kelelahan
 
 
                         glukoneogenesis                  hiperglikemia       
 

       lemak                  protein                   glycosuria

   ketogenesis                BUN↑                        Osmotic Diuresis
Kekurangan volume cairan
 
 

     ketonemia       Nitrogen urine ↑          Dehidrasi

Mual muntah
 
         ↓ pH                                             Hemokonsentrasi
 

Ggn Nutrisi  Kurang dari kebutuhan
 
                    Asidosis                                         Trombosis
§  Koma
§  Kematian
 
 

                                                                         Aterosklerosis
 

Mikrovaskuler
 
Makrovaskuler
 
   
 










5.   Manifestasi klinis
Pada klien dengan DM  Tipe II sering ditemukan gejala-gejala :
a.       Kelainan kulit  : gatal-gatal, bisul dan luka tidak sembuh
b.      Kelainan ginekologis : gatal-gatal sampai dengan keputihan
c.       Kesemutan dan baal-baal
d.      Lemah tubuh atau cepat lelah
e.       Trias gejala hyperglikemi (poliuri, polipagi, polidipsi) ditambah penurunan BB
Sedangkan pada tahap awal klien dengan Diabetes Mellitus Tipe II/ NIDDM mungkin sama sekali tidak memperlihatkan gejala apapun dan diagnosis hanya dibuat berdasarkan pemeriksaan darah dan tes toleransi glukosa. Sedangkan pada tahap lanjut klien akan mengalami gejala yang sama dengan penderita Diabetes Mellitus Tipe I/ IDDM

6.   Komplikasi
Komplikasi DM dapat dibagi menjadi 2 kategori, yaitu komplikasi akut dan komplikasi menahun.
A.    Komplikasi Metabolik Akut
          1)      Ketoasidosis Diabetik
                 Apabila kadar insulin sangat menurun, pasien mengalami hiperglikemi dan glukosuria berat, penurunan glikogenesis, peningkatan glikolisis, dan peningkatan oksidasi asam lemak bebas disertai penumpukkan benda keton, peningkatan keton dalam plasma mengakibatkan ketosis, peningkatan ion hidrogen dan asidosis metabolik. Glukosuria dan ketonuria juga mengakibatkan diuresis osmotik dengan hasil akhir dehidasi dan kehilangan elektrolit sehingga hipertensi dan mengalami syok yang akhirnya klien dapat koma dan meninggal
2)    Hipoglikemi
     Seseorang yang memiliki Diabetes Mellitus dikatakan mengalami hipoglikemia jika kadar glukosa darah kurang dari 50 mg/dl. Hipoglikemia dapat terjadi akibat lupa atau terlambat makan sedangkan penderita mendapatkan therapi insulin, akibat latihan fisik yang lebih berat dari biasanya tanpa suplemen kalori tambahan, ataupun akibat penurunan dosis insulin.
       Hipoglikemia umumnya ditandai oleh pucat, takikardi, gelisah, lemah, lapar, palpitasi, berkeringat dingin, mata berkunang-kunang, tremor, pusing/sakit kepala yang disebabkan oleh pelepasan epinefrin, juga akibat kekurangan glukosa dalam otak akan menunjukkan gejala-gejala seperti tingkah laku aneh, sensorium yang tumpul, dan pada akhirnya terjadi penurunan kesadaran dan koma.
B.      Komplikasi Vaskular Jangka Panjang
1.Mikroangiopaty
                           Merupakan lesi spesifik diabetes yang menyerang kapiler dan arteriola retina (retinopaty diabetik), glomerulus ginjal (nefropatik diabetik), syaraf-syaraf perifer (neuropaty diabetik), otot-otot dan kulit. Manifestasi klinis retinopati berupa mikroaneurisma (pelebaran sakular  yang kecil) dari arteriola retina. Akibat terjadi perdarahan, neovasklarisasi dan jaringan parut retina yang dapat mengakibatkan kebutaan. Manifestasi dini nefropaty berupa protein urin dan hipetensi jika hilangnya fungsi nefron terus berkelanjutan, pasien akan menderita insufisiensi ginjal dan uremia. Neuropaty dan katarak timbul sebagai akibat gangguan jalur poliol (glukosa—sorbitol—fruktosa) akibat kekurangan insulin. Penimbunan sorbitol dalam lensa mengakibatkan katarak dan kebutaan. Pada jaringan syaraf terjadi penimbunan sorbitol dan fruktosa dan penurunan kadar mioinositol yang menimbulkan neuropaty. Neuropaty dapat menyerang syaraf-syaraf perifer, syaraf-syaraf kranial atau sistem syaraf otonom.


2. Makroangiopaty
Gangguan-gangguan yang disebabkan oleh insufisiensi insulin dapat menjadi penyebab berbagai jenis penyakit vaskuler. Gangguan ini berupa :
a)      Penimbunan sorbitol dalam intima vaskular
b)      Hiperlipoproteinemia
c)      Kelainan pembekun darah
Pada akhirnya makroangiopaty diabetik akan mengakibatkan penyumbatan vaskular jika mengenai arteria-arteria perifer maka dapat menyebabkan insufisiensi vaskular perifer yang disertai Klaudikasio intermiten dan gangren pada ekstremitas. Jika yang terkena adalah arteria koronaria, dan aorta maka dapat mengakibatkan angina pektoris dan infark miokardium.
Komplikasi diabetik diatas dapat dicegah jika pengobatan diabetes cukup efektif untuk menormalkan metabolisme glukosa secara keseluruhan.

7. Penegakkan Diagnostik
                   Kriteria yang melandasi penegakan diagnosa DM adalah kadar glukosa darah yang meningkat secara abnormal. Kadar gula darah plasma pada waktu puasa yang besarnya di atas 140 mg/dl atau kadar glukosa darah sewaktu diatas 200 mg/dl pada satu kali pemeriksaan atau lebih merupakan criteria diagnostik penyakit DM.
8.    Pemeriksaan penunjan
Data Penunjang
a)      Laboratorium
Jenis pemeriksaan
Hasil
Nilai Normal
Satuan
Interpretasi
HEMATOLOGI
Haemoglobin
9,0
12-16
gr/dl
Rendah
Leukosit
6,600
3,8-10,6 rb
mm3
Rendah
Hematokrit
25
35-47
%
Rendah
Trombosit
385,000
150-440 rb
mm3
Rendah
KIMIA KLINIK
Karbonhidrat
33,0(05,08)
60-120
mg/dl
Rendah








b) Tes toleransi glukosa (TTG) memanjang, > 200 mg/dL.

1.       Gula darah puasa (FBS) ; >140 mg/dl
2.       Kadar glukosa sewaktu (GDS) ; >200 mg/dl
3.       Urinolisa positif terhadap glukosa dan keton.

8.   Pentalaksanaan

Tujuan jangka pendek adalah menghilangkan keluhan atau gejala sedangkan tujuan jangka panjang adalah mencegah komplikasi, tujuan tersebut dilakukan dengan cara menormalkan kadar glukosa lipid, dan insulin. Untuk mempermudah tercapainya tujuan tersebut kegiatan dilaksanakan dalam bentuk pengelolaan pasien secara holistik dan mengajarkan kegiatan mandiri. Kegiatan utama penatalaksanaan Diabetes Melitus yaitu :
a Diet
Penderita DM ditujukan untuk mengatur santapan dengan komposisi seimbang berupa karbohidrat (60-70 %) protein (10-15 %), dan lemak (20-25 %) yang dimakan setiap hari. Jumlah kalori yang dianjurkan tergantung sekali terhadap pertumbuhan, status gizi, umur, stress akut dan kegiatan jasmani untuk mencapai BB ideal. Jumlah kandungan kolesterol < 300 mg/hari, jumlah kandungan serat 25 gram perhari, diutamakan jenis serat larut. Konsumsi garam dibatasi apabila terjadi hipertensi, pemanis dapat digunakan secukupnya.
b.      Pengaturan Aktifitas Fisik
Latihan fisik atau bekerja mempengaruhi pengaturan kadar glukosa darah penderita DM. Latihan fisik membantu mempermudah transport glukosa ke dalam sel. Agar penderita dalam melakukan pengaturan kadar glukosa yang lebih baik, maka diperlukan pengaturan waktu yang tepat dalam melakukan latihan fisik..
c.       Agen Hipoglikemi
Jika pasien telah melakukan pengaturan makan dan melakukan latihan jasmani yang teratur tetapi kadar glukosa darahnya masih belum turun, dipertimbangkan pemakaian obat berkhasiat hipoglikemi (oral/suntikan



















B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
A.    PENGKAJIAN
1.    Identitas pasien
Nama                          : Ny”M”
No.Register                : 951299
No.Medis                    : 06.69.59
Diagnosa Medik         : Diabetes Melitus type II  
Tanggal Lahir             : 15/11/1952
Alamat                        : LR.Samarinda / LR.Asli No.521 RT 12/03 Kelurahan Sentosa

2.    Identitas penanggung jawab pasien
Nama                          : Ny”I”
Tanggal Lahir             : 25/08/1960
Hub Keluarga             : Adik Kandung
Alamat                        : LR.Samarinda / LR.Asli No.521 RT 12/03 Kelurahan Sentosa

3.    Keluhan utama           : Klien mengatakan badannya selalu terasa lemas  meskipun ia selalu menghabiskan porsi makanya


4.    Riwayat kesehatan keluarga
Klien mengatakan dalam anggota keluarganya tidak ada yang menderita penyakit menular seperti TBC Paru dan Hepatitis.






5.    Riwayat kesehatan pasien dan pengobatan sebelumnya
Klien mengatakan pernah mengalami banyak kencing 8-10 kali/hari dan selalu haus + 3 tahun yang lalu. Klien tidak memiliki kebiasaan suka merokok, minum minuman beralkohol, makan makanan yang manis-manis dan minum kopi. Klien tidak memiliki riwayat Hipertensi dan penyakit pankreatitis kronis.Menurut penuturan klien dan keluarga, 8 tahun yang lalu klien pernah mengalami peningkatan berat badan sampai 60 kg dengan tinggi badan saat itu 145 cm. Dari tahun 1997 sampai tahun 2000 klien menggunakan alat kontrasepsi oral (pil KB) namun karena merasa tidak cocok yaitu rambut menjadi rontok sehingga klien menghentikan pemakaiannya sampai saat ini.

B.       PEMERIKSAAN FISIK
1.    Aktivitas / istirahat
Gejala    :   
-    Lemah, letih, sulit bergerak / berjalan
-       Kram otot, tonus otot menurun, gangguan tidur
Tanda    :   
-    Takikardia dan takipnea pada keadaan isitrahat atau dengan aktivitas
-       Letargi / disorientasi, koma
-       Penurunan kekuatan otot
2.    Sirkulasi
Gejala    :   
-    Adanya riwayat hipertensi
-       Klaudikasi, kebas dan kesemutan pada ekstremitas
-       Ulkus pada kaki, penyembuhan yang lama
Tanda    :   
-    Takikardia
-       Perubahan tekanan darah postural, hipertensi
-       Nadi yang menurun / tidak ada
-       Disritmia
-       Krekels
-       Kulit panas, kering, kemerahan, bola mata cekung
3.    Integritas Ego
Gejala    :   
-    Stress, tergantung pada orang lain
-       Masalah finansial yang berhubungan dengan kondisi
Tanda    :   
 -    Ansietas, peka rangsang
4.    Eliminasi
Gejala    :               
-    Perubahan pola berkemih (poliuria), nokturia
-       Rasa nyeri / terbakar, kesulitan berkemih (infeksi)
-       Nyeri tekan abdomen
-       Diare
Tanda    :   
 -    Urine encer, pucat, kuning : poliuri
5.    Makanan / cairan
Gejala    :    -    Hilang nafsu makan          
-       Mual / muntah
-       Tidak mengikuti diet : peningkatan masukan glukosa / karbohidrat.
-       Penurunan BB lebih dari periode beberapa hari / minggu
-       Haus
-       Penggunaan diuretic (tiazid)
Tanda    :   
-    Disorientasi : mengantuk, letargi, stupor / koma (tahap lanjut). Ganguan memori (baru, masa lalu) kacau mental.
6.    Nyeri / kenyamanan
Gejala    :   
-    Abdomen yang tegang / nyeri (sedang/berat)
Tanda    :   
-    Wajah meringis dengan palpitasi; tampak sangat berhati-hati
7.    Pernafasan
Gejala    :   
-    Merasa kekurangan oksigen : batuk dengan / tanpa sputum purulen (tergantung ada tidaknya infeksi)
Tanda    :   
-    Lapar udara
-       Batuk, dengan / tanpa sputum purulen (infeksi)
-       Frekuensi pernafasan
8.    Keamanan
Gejala    :   
-    Kulit kering, gatal; ulkus kulit
Tanda    :   
-    Demam, diaphoresis
-       Kulit rusak, lesi / ilserasi
-       Menurunnya kekuatan umum / rentang gerak

D. DIANGNOSA KEPERAWTAN

1)      Gangguan pemenuhan nutrisi berhubungan dengan penurunan metabolisme karbohidrat akibat defisiensi insulin, intake tidak adekuat akibat adanya mual dan muntah.
2)      Defisit volume cairan tubuh berhubungan dengan diuresis osmotic dari hiperglikemia, poliuria, berkurangnya intake cairan.
3)      Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan berhubungan dengan ketidakcukupan insulin, ketidakseimbangan intake makanan dengan aktivitas fisik, kebiasaan pola makan, dan kurangnya pengetahuan.
4)      Gangguan integritas kulit berhubungan dengan penurunan sensasi sensori, gangguan sirkulasi, penurunan aktivitas/mobilisasi, kurangnya pengetahuan tentang perawatan kulit.
5)      Gangguan pemenuhan aktivitas sehari-hari berhubungan dengan kelemahan akibat penurunan produksi energi.
C. PERENCANAAN
Dari diagnosa keperawatan diatas dapat disusun rencana asuhan keperawatan sebagai berikut:
1.      Gangguan pemenuhan nutrisi berhubungan dengan penurunan metabolisme karbohidrat akibat defisiensi insulin, intake tidak adekuat akibat adanya mual dan muntah.
Tujuan:
Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi dengan optimal.
Kriteria evaluasi:
-          Nafsu makan meningkat ditandai dengan porsi makan klien habis.
-          Pemasukan kalori atau nutrisi adekuat sesuai program.
-          Berat badan mengarah ke normal sesuai dengan tinggi badan.
-          Kadar glukosa darah dalam batas normal dan tidak terjadi fluktuasi.
Rencana:
Intervensi
Rasional
Timbang berat badan setiap hari atau sesuai indikasi.

Auskultasi bising usus, catat adanya nyeri abdomen, kembung, mual, dan muntah.


Identifikasi makanan yang disukai atau dikehendaki.


Libatkan keluarga klien pada perencanaan makan sesuai dengan indikasi

Observasi tanda-tanda hipoglikemia seperti perubahan tingkat kesadaran, kulit lembab/dingin, denyut nadi cepat, lapar, peka rangsang, cemas, sakit kepala, pusing dan sempoyongan.

Pantau pemeriksaan laboratorium seperti glukosa darah, aseton, pH, dan HCO3




Berikan pengobatan insulin secara teratur.


Lakukan konsultasi dengan ahli diet.
Mengkaji pemasukan makanan yang adekuat.


Hiperglikemia dan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit dapat menurunkan motilitas atau fungsi lambung yang akan mempengaruhi pilihan intervensi.

Jika makanan yang disukai dapat dimasukkan dalam perencanaan makan, kerjasama ini dapat diupayakan setelah pulang.

Meningkatkan rasa keterlibatan dan memberikan informasi kepada keluarga untuk memahami kebutuhan nutrisi klien

Karena metabolisme karbohidrat mulai terjadi (gula darah akan berkurang) dan sementara insulin tetap diberikan maka hipoglikemia dapat terjadi.




Gula darah akan menurun perlahan dengan penggantian cairan dan therapi insulin terkontrol sehingga glukosa dapat masuk ke dalam sel dan digunakan untuk sumber kalori. Ketika hal ini terjdi kadar aseton dapat menurun dan asidosis dapat dikoreksi.

Insulin reguler memiliki awitan cepat dan karenanya dengan cepat pula dapat membantu memindahkan glukosa ke dalam sel.

Bermanfaat dalam perhitungan dan penyesuaian diet untuk memenuhi kebutuhan nutrisi klien.

2.      Defisit volume cairan tubuh berhubungan dengan diuresis osmotic dari hiperglikemia, poliuria, berkurangnya intake cairan.
Tujuan: Hidrasi adekuat.
Kriteria evaluasi:
-   Tanda-tanda vital stabil : TD 120/80 mmHg, Respirasi 16-24 x/menit, Nadi 70-80 x/menit, Suhu 36,5-37.50C
-   Nadi perifer dapat diraba.
-   Turgor kulit dan pengisian kapiler baik.
-   Intake dan output seimbang.
-   Kadar elektrolit dalam batas normal





Rencana:
Intervensi
Rasional
Pantau tanda-tanda vital, catat adanya perubahan tekanan darah ortostatik.
Kaji pola nafas seperti adanya pernafasan kussmaul atau berbau keton.




Pantau frekuensi dan kualitas pernafasan, penggunaan otot bantu nafas dan periode apneu serta muncul sianosis.


Kaji nadi perifer, pengisian kapiler, torgor kulit dan membran mukosa.
Pantau intake dan output


Pertahankan untuk memberikan cairan paling sedikit 2500 ml/hari dalam batas yang dapat ditoleransi jantung jika pemasukan cairan sudah dapat diberikan.
Tingkatkan lingkungan yang dapat memberikan rasa nyaman. Selimuti klien dengan selimut tipis.
Kaji adanya perubahan mental atau sensori.



Berikan terapi cairan sesuai dengan indikasi.

Pasang dan pertahankan kateter urin.
Hipovolemia dapat dimanifestasikan oleh hipotensi dan takikardia.

Paru-paru mengeluarkan asam karbonat melalui pernafasan yang menghasilkan kompensasi alkalosis respiratoris terhadap keadaan ketoasidosis. Pernafasan yang berbau aseton berhubungan dengan pemecahan asam aseto asetat dan harus berkurang bila ketosis telah terkoreksi.
Peningkatan kerja pernafasan, pernafasan cepat dan dangkal serta munculnya sianosis mungkin indikasi dari kelelahan pernafasan atau mungkin klien kehilangan kemampuannya untuk mengkompensasi asidosis.
Merupakan indicator dari tingkat dehidrasi atau volume sirkulasi yang adekuat.

Memberikan perkiraan kebutuhan akan cairan pengganti, fungsi ginjal dan keefektifan dari therapi yang diberikan.
Mempertahankan hidrasi atau volume sirkulasi dengan adekuat.




Menghindari pemanasan yang berlebihan terhadap klien yang lebih lanjut dapat menimbulkan kehilangan cairan

Perubahan mental dapat berhubungan dengan hipoglikemi atau hiperglikemi, elektrolit yang abnormal, asidosis, penurunan perfusi serebral, dan berkembangnya hipoksia.

Tipe dan jumlah cairan tergantung dari derajat kekurangan cairan dan respon klien secara individual.
Memberikan pengukuran yang tepat dan akurat terhadap urin output.
Mengkaji tingkat hidrasi.

3.      Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan berhubungan dengan ketidakcukupan insulin, ketidakseimbangan intake makanan dengan aktivitas fisik, kebiasaan pola makan, dan kurangnya pengetahuan.
Tujuan: Intake nutrisi adekuat
Kriteria evaluasi:
-  Kadar glukosa darah dalam tingkat yang optimal.
-  Berat badan ideal dapat dicapai dan dipertahankan.
-  Klien dapat menghabiskan porsi makan yang disediakan.
-  Klien dapat memilih makanan berdasarkan pada panduan penurunan  kalori
Rencana:


Intervensi
Rasional
Diskusikan dengan pasien dan keluarga tentang faktor penyebab.
Kaji psikososial pasien yang berhubungan dengan makan berlebih
Jelaskan hubungan obesitas dengan diabetes.
Konsultasikan dengan ahli gizi untuk program diet.
Motivasi klien untuk mengkonsumsi cukup makanan yang mengandung kompleks karbohidrat yang tinggi.
Bantu memilih menu harian berdasarkan rencana rendah kalori dan rendah lemak.
Timbang berat badan setiap hari.
Diskusikan kebutuhan diet dan tingkatkan latihan sesuai program diet.

Libatkan keluarga dalam perencanaan makan sesuai program diet dan indikasi.
§  Kolaborasi pemeriksaan gula darah, pH, HCO3
Pengertian dapat memotivasi untuk menghindari faktor penyebab.

Psikologis dapat mempengaruhi perilaku makan yang berlebih.

Obesitas dapat menyebabkan DM tipe II

Untuk menetapkan dan menghitung diet sesuai dengan kebutuhan klien.
Dapat membantu dalam penurunan berat badan.


Menghindari kebosanan akan menu pada diet yang telah ditentukan.

Menunjukkan intake nutrisi yang adekuat.

Latihan memudahkan ambilan glukosa sehingga menurunkan kadar gula darah, memudahkan penurunan berat badan, dan menurunkan resiko aterosklerosis.
Memberikan rasa keterlibatan, memberikan informasi kepada keluarga tentang kebutuhan nutrisi klien.
Gula darah akan menurun secara perlahan-lahan pada insulin yang terkontrol. Pemberian insulin dosis optimal menyebabkan glukosa masuk kedalam sel yang digunakan untuk energi.




4.      Gangguan integritas kulit berhubungan dengan penurunan sensasi sensori, gangguan sirkulasi, penurunan aktivitas/mobilisasi, kurangnya pengetahuan tentang perawatan kulit.
Tujuan: Integritas kulit dapat dipertahankan
Kriteria evaluasi:
Keadaan kulit tetap utuh pada daerah yang mengalami gangguan seperti yang ditunjukkan oleh hal-hal berikut:
·  Kulit yang mengalami lesi kelihatan bersih dan memperlihatkan tanda- tanda penyembuhan.
·   Klien atau orang terdekat memperlihatkan perawatan kulit yang tepat.
-   Dapat mempertahankan kesehatan jaringan kulit seperti yang ditunjukkan oleh hal-hal berikut:
·  Tidak mengalami kerusakan kulit
·  Tidak terdapat daerah kemerahan
·  Mempertahankan sirkulasi adekuat.


Rencana:
Intervensi
Rasional
Inspeksi kulit terhadap perubahan warna, turgor, vascular.
Jaga kulit tetap bersih dan kering.

Berikan perawatan kulit dengan salep atau krim.


Pertahankan linen kering.


Lakukan perawatan luka dengan larutan NaCl dan debridement sesuai order.

Berikan obat-obatan luka.


Awasi dengan ketat terhadap tanda dan gejala infeksi.
Berikan tindakan untuk memaksimalkan sirkulasi darah.

Awasi hasil pemeriksaan laboratorium seperti albumin
Menandakan area sirkulasi buruk yang dapat menimbulkan dekubitus/infeksi.

Kulit kotor dan basah merupakan media yang baik untuk tumbuhnya mikroorganisme.

Salep dan krim berfungsi untuk melembabkan kulit sehingga mencegah terjadinya robekan kulit

Menurunkan iritasi pada kulit dan resiko kerusakan kulit.

Membersihkan luka sehingga mempercepat tumbuhnya jaringan baru.


Membunuh mikroorganisme dan mempercepat penyembuhan luka.

Deteksi dini sebagai upaya preventif dan menentukan intervensi yang tepat.
Sirkulasi adekuat penting untuk aktivitas sel.

Sebagai indikator pertukaran nutrisi.

5.      Gangguan pemenuhan aktivitas sehari-hari berhubungan dengan kelemahan akibat penurunan produksi energi.
Tujuan:
Aktivitas sehari-hari klien terpenuhi
Kriteria evaluasi:
-  Kelemahan klien berkurang
-  Mengungkapkan peningkatan energi.
-  Menunjukkan perbaikan kemampuan untuk berpartisipasi dalam aktifitas yang diinginkan.


Rencana:
Intervensi
Rasional
Diskusikan dengan klien kebutuhan akan aktivitas, buat jadwal perencanaan dengan
klien dan identifikasi aktifitas yang menimbulkan kelelahan.

Berikan aktifitas alternatif dengan periode istirahat yang cukup.

Pantau tanda-tanda vital sebelum dan sesudah beraktifitas.
Tingkatkan partisipasi klien dalam melakukan aktivitas sehari-hari sesuai dengan yang dapat ditoleransi.

Libatkan keluarga dalam pelaksanaan aktivitas klien.
Pendidikan dapat memberikan motivasi untuk meningkatkan tingkat aktifitas meskipun mungkin klien sangat lemah.



Mencegah kelelahan yang berlebihan.



Mengindikasikan tingkat aktifitas yang dapat ditolerir secara fisiologis.
Meningkatkan kepercayaan diri atau harga diri yang positif sesuai tingkat aktifitas yang dapat ditolelir klien


Meningkatkan peran aktif keluarga dalam perawatan klien.







DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan RI. Paradigma Indonesia Sehat 2010. Jakarta : Pusat Penyuluhan Kesehatan Masyarakat. 1999

Doenges, Marylinne. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC. 1995

Effendi, Nasrul. Pengantar Proses Keperawatan.  Jakarta : EGC. 1995

Ganong, WF. Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC. 1992

Greenspan, Francis S. Endokrinologi Dasar dan Klinik. Jakarta : EGC. 2000

Guyton, Arthur C dan Hall John. E. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9. Jakarta : EGC. 1997

Long, Barbara C.  Perawatan Medikal bedah. Bandung : Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawtaan Bandung. 1996
            Http//google.com



Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking